Selasa, 01 Maret 2011
IT, tantangan guru dan siswa
Kondisi pendidikan saat ini jauh berbeda bila dibandingkan dengan 10 tahun terakhir ini. Kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor yang memiliki pengaruh kuat dalam perkembangan pendidikan. Faktor politik, ekonomi, sosial, dan teknologi adalah empat faktor penting yang mempengaruhi perubahan pendidikan ini. Ekonomi memiliki peran utama dalam hampir setiap perubahan yang kemudian secara otomatis akan mempengaruhi pola sosial politik masyarakat. Sebelum reformasi yang terjadi tahun 1998 pola sosial ekonomi masyarakat masih didominasi oleh kepatuhan terhadap sistem yang diterapkan oleh pemerintah. Namun kemudian sejak reformasi terjadi, pola sosial politik masyarakat berubah secara siknifikan. Masyarakat kelas bawah terpaksa mengkonsumsi gejolak yang terjadi dalam skala nasional, padahal seharusnya mereka tidak perlu sampai mengkonsumsi hal seperti ini, efeknya arogansi masyarakat tak terkendali lagi.
BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang diiklankan sebagai wujud janji politik penguasa diartikan masyarakat secara sepihak tanpa mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan. Yang penting sekolah itu gratis. Kondisi ini diperparah oleh karakter pemangku jabatan yang menginginkan sistem berjalan secara instant tanpa sosialisasi menyeluruh, akibatnya banyak terjadi laporan – laporan tentang penyalahgunaan dana BOS dari masyarakat. Bila sudah seperti ini masing-masing lini jabatan saling tunjuk.
Pasca reformasi tidak serta merta membawa perubahan yang positif. Kondisi ini cukup mendidik masyarakat untuk lebih kritis terhadap setiap perubahan yang terjadi disekitarnya. Masyarakat kelas bawah hingga kelas atas berubah menjadi sebuah sistem kontrol, sayangnya perubahan ini tidak diikuti oleh bekal wawasan yang memadai, sehingga seringkali kritik ini malah salah arah.
BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang diiklankan sebagai wujud janji politik penguasa diartikan masyarakat secara sepihak tanpa mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan. Yang penting sekolah itu gratis. Kondisi ini diperparah oleh karakter pemangku jabatan yang menginginkan sistem berjalan secara instant tanpa sosialisasi menyeluruh, akibatnya banyak terjadi laporan – laporan tentang penyalahgunaan dana BOS dari masyarakat. Bila sudah seperti ini masing-masing lini jabatan saling tunjuk.
Akan tetapi kendala dan dilema seperti ini cukup terfasilitasi oleh kehadiran dan peran teknologi. Sayangnya pendidik malah menganggap teknologi sebagai musuh pendidikan. 5 Tahun terakhir ini IT atau Information Technology semakin gencar masuk dalam kehidupan masyarakat. Tentu saja teknologi memiliki dampak positif dan negatif pada penggunanya. Dua puluh tahun yang lalu, anak-anak masih asik dengan permainan tradisional, tapi sejak lima tahun terakhir ini kondisi ini berubah. Diawali masuknya permainan (game) nintendo yang kemudian berkembang teknologinya menjadi play station (PS), seakan menjadi jembatan bagi anak usia dini hingga dewasa untuk mengenal komputer.
Menurut catatan wikipedia, pada awal tahun 1990-an adalah saat pertama kali internet masuk Indonesia, ini merupakan alat komunikasi yang masih sangat mahal karena kemampuannya yang hampir tiada batas dan kelangkaan perangkat pendukung jaringan internet. Dalam lima tahun belakang ini, harga tehnologi komunikasi ini menurun drastis mengikuti kebutuhan masyarakat.
Memang apapun yang ada dalam setiap aspek kehidupan termasuk dalam lingkup kemasyarakatan selalu memiliki dual potensi, baik dan buruk. Ketika guru menganggap kehadiran internet sebagai musuh pendidikan, maka selama itu juga dia akan berjalan ditempat. Kebanyakan guru yang memiliki anggapan seperti ini adalah guru SD, maklum wawasan mereka sangat kurang sekali dan tingkat pendidikan mereka sangat rendah untuk ukuran seorang pendidik.
IT atau information technology sebenarnya adalah kehidupan nyata yang diperkecil tampilannya, baik dan buruk bisa didapatkan dengan mudah. Mulai dari video porno, perjudian, hingga pada akses pendidikan bisa ditemui disana. Hal ini kembali kepada manusianya sendiri, ingin seperti apa dia, hal-hal apa saja menjadi ketertarikan dia. Meskipun situs-situs porno dan perjudian diblok, masih saja dapat diakses. Bahkan ketika telkom sudah menyediakan fasilitas blokir situs negatif , hal ini masih saja bocor. Biasanya telkom menggunakan sebuah DNS (Domain Name System), DNS yang digunakan adalah DNS Nawala, yaitu sebuah DNS yang menggunakan IP DNS private 180.134.144.144 dan IP DNS Alternate 180.134.145.145. Penggunaan DNS ini secara otomatis akan memblok situs-situs yang telah dianggap sebagai situs terlarang.
Pada tataran pendidikan hal ini sebenarnya merupakan tantangan seorang guru untuk mempelajari konsep IT dengan benar. Mempelajari konsep jaringan internet sangat mudah, karena literatur yang dibutuhkan sudah banyak tersebar di internet. Internet juga akan mempermudah proses pembelajaran di sekolah dengen konten yang sudah tersedia, sebagai contohnya adalah konten SIAP yang telah disediakan oleh telkom. SIAP adalah sebuah aplikasi online gratis yang bisa diakses oleh Dinas pendidikan kabupaten/kota hingga kecamatan, guru, siswa, bahkan orang tua siswa. Untuk informasi lebih lengkap silahkan akses www.siap-online.com.
Selain siap online ada lagi program yang disebut m-edukasi. M-edukasi adalah sebuah website yang menyediakan berbagai program pendidikan yang bisa mempermudah guru untuk menyampaikan materi. Disini terdapat empat puluh konten dan artikel pendidikan yang dapat di unduh dan dijadikan sebagai media pembelajaran. Satu hal yang paling memudahkan adalah site ini dapat diakses melalui handphone, karena website ini berbasis mobile. Alamat websitenya adalah www.m-edukasi.net
Sedangkan untuk website luar yaitu Educational Freeware yang memiliki alamat url www.eduacational-freeware.com. Website ini dibuat oleh Marianne Wartoft seorang yang berkebangsaan Swedia. Dalam websitenya dia lebih menekankan software atau perangkat lunak untuk siswa PAUD dan SD. Tantangan dalam website ini adalah bahasa, bahasa yang digunakan adalah bahasa inggris.
Dari banyaknya fasilitas yang ada, sekolah dasar hanya memanfaatkan fasilitas ini tidak lebih dari 40%. Sangat disayangkan memang. Pemanfaatan fasilitas yang minim ini disebabkan oleh sumber daya manusia di sekolah dasar yang sangat minim bahkan dibawah standar. Pola sosial di sekolah dasar umumnya berdasarkan status dan DUK. Hal inilah yang menyebabkan kurangnya jumlah sekolah dasar yang berkualitas.
Dua tahun belakang ini dunia pendidikan disegarkan oleh kehadiran konsep pembelajaran PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif dan Menyenangkan). Konsep baru ini adalah sebuah konsep yang sangat membutuhkan kreatifitas guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, sehingga diharapkan guru mampu mendampingi siswa menjadi insan yang aktif, kreatif dan inovatif. Dalam pandangan histori, selama ini pendidikan berada pada posisi yang memprihatinkan dibandingkan pada tahun 70-an, guru saat ini jarang yang memiliki jiwa pendidik seperti pada masa itu, sehingga proses pembelajaran hanya dilakukan bukan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa akan tetapi profit oriented, sehingga peserta didikpun akhirnya tidak mendapatkan konsep yang benar.
Kehadiran konsep PAKEM adalah sebuah penyegaran terhadap dunia pendidikan, akan tetapi penyegaran dan pencerahan ini ditanggapi dengan tidak maksimal. Sebagian guru yang kurang wawasan dan kurang pengalaman bingung menghadapi konsep ini, sehingga proses pembelajaran terpaksa dilaksanakan dengan cara-cara tradisional. Inilah yang kemudian membuat para pemikir pendidikan mencoba melakukan alternatif lain yang diharapkan mampu mengemban amanat pendidikan dengan benar dan maksimal.
Penggagas Indonesia Mengajar Anis Bawedan yang dimuat pada Media Indonesia, menyatakan bahwa Indonesia sebenarnya sudah maju yang luar biasa, karena jumlah penduduk melek huruf pada tahun 1945 hanya 5%, sedangkan tahun 2010 sudah mencapai 92%, padahal di India masih ada 40% warganya yang belum melek huruf. Namun, kemajuan Indonesia itu tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai tingkat advance (mampu menyelesaikan masalah) yakni 1%.
Dalam kaitan pernyataannya Anis Baswedan menantang para sarjana untuk menyalakan lilin ditengah kegelapan. Tantangan ini adalah tantangan bagi sarjana untuk mengajar selama 1 tahun. Menurutnya dengan pengalaman mengajar selama 1 tahun dia akan mempu menjadi pemimpin di segala sektor.
Betapa ironisnya ketika ada seorang guru yang masih kesulitan membuat sebuah karya tulis ketika karya tulis dijadikan tolak ukur pengalaman dan kemampuan mengajar. Berapa persen PTK guru dalam sertifikasi yang terpaksa di diskualifikasi karena ternyata PTK itu bukan hasil karya sendiri. Padahal karya tulis seharusnya menjadi makanan sehari-hari seorang pendidik. Oleh karena itu guru sangat dilarang untuk bersikap negative terhadap perubahan. Guru adalah sosok yang seharusnya mampu merubah nilai-nilai negatif lingkungan. Siswa sudah sangat familier dengan kehadiran tehnologi informasi yang begitu gencar dan tak terbendung, bila kondisi ini tidak didukung oleh kehadiran guru yang juga menguasai bidang tehnologi informasi, maka akan semakin parahlah siswa mengkonsumsi hal-hal negative, dan ini akan menjadi indikasi bahwa pondasi bangsa ini keropos.
Tehnologi bukanlah lawan, tehnologi adalah sebuah tantangan yang diciptakan manusia untuk mencapai perubahan yang lebih baik. Tak kenal maka tak sayang, itulah yang seharusnya dipegang oleh guru demi nasib bangsa yang semakin hari semakin banyak diremehkan oleh bangsa lain. Sekolah dasar adalah awal penanaman doktrin, bila masa ini tidak mengikuti pola perubahan yang terjadi saat itu, maka sesungguhnya ini telah melupakan amanat UUD 45 dan memberikan peluang kedzaliman yang sangat luas bagi bangsa lain yang lebih maju.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
About Me
- visicomtech
- Semuanya berawal dari ketidakmampuan, kegagalan adalah media belajar paling canggih
Labels
- Dienul Islam (5)
- LINUX (5)
- Perempuan (1)
- Tarbiyah (3)
Blog Archive
Blogroll
Diberdayakan oleh Blogger.

0 komentar:
Posting Komentar